DakwahSejarahSirah

Cinta Nabi Yang Hakiki

Penulis : Zahara Amalia

Idemuslim.com, SIRAH — Bulan Rabiul Awal adalah bulan mulia yang penuh dengan kebahagiaan. Bulan kelahiran Rasul yang mulia, Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai utusan Allah ta’ala. Beliau dilahirkan pada hari Senin pagi 12 Rabiul Awal pada tahun Gajah di Makkah (Ibnu Hisyam, as-Sîrah, 1/142; Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 2/264; Ibnul Qayyim, Zâd al-Ma’âd, 1/28).

Kelahiran Nabi Mulia

Menjelang kelahiran Rasul mulia Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam, alam semesta berbahagia menyambut kelahirannya. Sebab beliau adalah pembawa berita gembira, penebar rahmat serta pemersatu umat. Bahkan langit dan bumi menyambutnya dengan sukacita. Begitu pula terdapat sejumlah peristiwa besar yang terjadi di dunia sebagai tanda bahwa akan ada kelahiran Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. Terdapat banyak peristiwa besar menjelang kelahiran nabi. Diantaranya langit cerah dan bercahaya, hancurnya pasukan gajah yang ketika itu dipimpin oleh Raja Abrahah yang ingin menyerang ka’bah, biidznillah Allah luluh lantakkan mereka. Dalil  atas peristiwa itu terdapat di dalam Qs. Al Fiil. Kemudian api suci yang dipuja-puja oleh orang Majusi di kuil pemujaan Persia tiba-tiba padam. Dan masih banyak lagi.

Tak Lupa, selain kabar gembira menjelang kelahiran rasul, ternyata terdapat kabar kesedihan. Imam al-Hafizh Ibnu Katsir Berkata Dalam Kitab Al-Bidayah Wa An-Nihayah Bab Malam Kelahiran Rasulullah shallallahu àlaihi wa sallam,

انَّ ابليس رنَّ اربع رنَّات: حين لُعِنَ وحين اهبط وحين وُلِدَ رسول اللّٰه صلى الله عليه وسلم وحين انزلت الفاتحةُ.

“Bahwa Iblis menangis histeris empat kali: ketika dilaknat, ketika diusir dari surga, ketika dilahirkan Rasulullah shallallahu àlaihi wa sallam, dan ketika diturunkan surat al-Fatihah.”

Maulid Nabi Bukan Sekedar Tradisi

Sebagaimana yang terjadi di tengah masyarakat hari ini, momen kelahiran nabi diperingati disetiap tahunnya. Dan peringatan ini juga tak terlepas dari pro dan kontra di tengah masyarakat. Dan itu hanyalah permasalahan furu’iyah yang tidak harus diperdebatkan terus- menerus sebenarnya. Bagi yang memiliki dalil kebolehan memperingati maulid, sebagian umat Islam biasa menyambutnya dengan istilah “Peringatan Maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam” dengan Tabligh Akbar, Sholawat dan lain sebagainya. Dan di dalamnya selalu terdapat pujian-pujian kepada Rasulullah. Ini semua dilakukan sebab kecintaan pada Nabi Allah yang Mulia.

Cinta Nabi Yang Hakiki

Jika kita membaca literasi sejarah, peringatan Maulid Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam , pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, Gubernur Irbil, Irak, pada masa pemerintahan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (1138-1193 M). Dan pencetus ide ini pada mulanya adalah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Beliau memiliki tujuan yakni untuk mengokohkan semangat kaum muslimin terkhusus para tentaranya yang sedang down pada waktu itu, saat sedang menghadapi tentara Salib dari Eropa yang mereka ingin merebut tanah suci Palestina.

Dari sini, pengaruh yang ditimbulkan dari maulid sangat berefek kepada tentara kaum muslimin dan akhirnya mereka memiliki semangat jihad kembali untuk melawan tentara kafir.

Akan tetapi, jika dikoneksikan dengan fakta pada hari ini Maulid Nabi hanya sebatas tradisi tahunan yang tidak memiliki pengaruh apapun di dalam jiwa-jiwa kaum muslimin kebanyakan. Padahal kita pun pada hari ini sedang dalam kondisi lemah dan tak berdaya. Lemahnya kaum muslimin sebab telah diserang oleh kafir barat melalui fisik dan nonfisik. Dan ini seharusnya mampu dibangkitkan semangat jihad melawan kafir barat layaknya Sultan Shalahuddin Al Ayyubi.

Wujud Cinta Nabi Yang Hakiki

 كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Akhir serta banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab [33]: 21)

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam, adalah makhluk Allah yang sangat Mulia. Ma’shum dari dosa serta diberi jaminan masuk kedalam JannahNya. Kendati demikian, Rasuli tak pernah lelah dalam beribadah pada Allah Ta’ala kepada Rabbnya. Bahkan di akhir hayatnya masih terpikir untuk mengingat dan menyebut umatnya.

Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha menyebut akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Aisyah ra. berkata, “Rasulullah adalah orang yang paling mulia akhlaknya. Tidak pernah berlaku keji. Tidak mengucapkan kata-kata kotor. Tidak berbuat gaduh di pasar. Tidak pernah membalas dengan kejelekan serupa. Akan tetapi, beliau pemaaf dan pengampun.” (HR Ahmad).

Baca Juga :

Lalu apa sebenarnya makna wujud cinta Nabi yang hakiki itu? Ia adalah meneladani segala sesuatu yang ada pada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Dari perkataannya, perbuatannya, serta ketetapannya. Tidak hanya menjadikan teladan Rasul Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam aspek akidah, spiritual, moral, dan sosial saja. Akan tetapi meneladani Rasulullah dari segi perjuangan dakwahnya dan Syariat yang dibawa beliau untuk umatnya secara keseluruhan. Sebagaimana beliau telah memberikan teladan kepemimpinan dalam aspek bernegara, politik di dalam dan luar negeri, menjalankan pemerintahan, menerapkan hukum Islam dan lain sebagainya kepada kita.

Sebagaimana hadits dibawah ini :

بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ فَتَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Oleh karena itu kalian wajib berpegang pada Sunnhku dan Sunnah Khulafaur Rasyudin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah pada Sunnah itu dan gigitlah erat-erat dengan gigi geraham.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button