Real Hero

SETAN QURAISY YANG BERALIH MENJADI PEJUANG ISLAM (UMAIR BIN WAHAB)

oleh : Dedek Arnisah

“Demi dzat yang diriku ditangan-Nya, aku lebih suka melihat babi daripada si Umair pada awal Ia muncul di hadapan kami. Tetapi, sekarang aku lebih suka kepadanya daripada sebagian anakku sendiri” (Umar Bin Khattab)

Umair bin Wahab, seorang pemimpin Quraisy yang menghunus pedangnya untuk melawan Islam, memiliki penglihatan teliti dan tajam, perhitungannya yang tepat, menjadikannya sebagai utusan bagi kaum Quraisy untuk menyelidiki jumlah kaum Muslimin yang ikut berperang dengan Rasulullah ﷺ pada perang Badar dan mengamati apakah masih ada pasukan tambahan yang bersembunyi.

Umair Bin Wahab bergegas memacu kuda mengamati sekeliling perkemahan kaum Muslimin, dan mengatakan kekuatan kaum Muslim kurang lebih 300 orang dan tidak ada bala bantuan lagi dibelakangnya. Dan ternyata perkiraannya itu benar.

Hampir saja pasukan Quraisy kembali ke Mekah tanpa perang, seandainya Abu Jahal tidak merusak pemikiran mereka. Abu Jahal mengobarkan api kebencian dan memercikkan api peperangan, dimana Ia tewas sebagai korban pertama. Usaha pasukan Quraisy mengalami kegagalan. Mereka kembali ke Mekah dengan kekuatan yang telah hancur. Umair Bin Wahab pun harus meninggalkan anaknya di Madinah karena menjadi tawanan kaum Muslimin.

Kekecewaan atas kekalahan

Ketika Umair Bin Wahab berkumpul dengan Shafwan Bin Umayah, mereka saling melemparkan kekecewaan. Dimana Shafwan menyimpan dendam karena ayahnya (Umayah Bin Khalaf) tewas pada perang Badar. Umair berkata “Kalau bukan karena utang yang belum kubayar dan kekhawatiran kepada keluarga yang akan terlantar sepeninggalanku, niscaya aku berangkat mencari Muhammad untuk membunuhnya!”

Berdasarkan situasi ini Shafwan memanfaatkan keadaan dengan  menawarkan bantuan untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya. Umair pun setuju. Dan Ia akan beralasan pergi ke Madinah untuk membicarakan anaknya yang sedang ditawan disana. Padahal itu hanya alasan untuk mengelabuhi kaum Muslimin. Umair bergegas mengasah pedang dan membubuhi racun.

Keislaman Umair Bin Wahab

Umair menjumpai Rasulullah ﷺ bersama kaum Muslimin lainnya yang sedang berkumpul didalam masjid. Umar Bin Khattab berkata “Ya Rasulullah, itu si Umair musuh Allah, Ia telah datang siap menghunusmu dengan pedangnya”

Rasulullah menjawab, “Surulah Ia masuk menghadapku”

Lalu Umar membawa masuk Umair menghadap Rasulullah ﷺ. Ketika melihatnya Rasulullah ﷺ berkata: ”Biarkanlah Ia wahai Umar. Silahkan wahai Umair”

Umair masuk dan berkata, “Selamat Pagi”

Ini merupakan ucapan jahiliyah, Rasulullah ﷺ berkata, “Sesungguhnya Allah ﷻ telah memuliakan kami dengan ucapan kehormatan yang lebih baik daripada ucapanmu hai Umair, yaitu ucapan salam yang merupakan penghormatan bagi ahli Surga”

Umair berkata, “Demi Allah, aku baru mendengar soal itu”

Rasulullah mulai bertanya, “Apa maksudmu datang kesini wahai Umair?

Umair berkata, “Kedatanganku kesini sehubung dengan tawanan yang berada ditanganmu”

“Berkatalah terus terang wahai Umair, apa maksud kedatanganmu sebenarnya dengan pedang yang tersandang itu?”

“Aku tidak datang selain untuk itu”

“Bukankah engkau telah duduk bersama Shafwan bin Umayah diatas batu, lalu engkau berbincang-bincang tentang orang-orang Quraisy yang tewas di sumur Badar, dan engkau berkata, “Kalau bukan karena utang yang belum kubayar dan kekhawatiran kepada keluarga yang akan terlantar sepeninggalanku, niscaya aku berangkat mencari Muhammad untuk membunuhnya!” Kemudian Shafwan  menjamin akan membayar utangmu dan menanggung keluargamu, asal kamu membunuhku.

Seketika itu juga Umair berteriak, “Aku bersaksi bahwa tiada Illah yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah. Perbincangan itu tidak ada yang menghadirinya selain aku dengan Shafwan saja. Demi Allah, tidak ada yang memberi kabar kepadamu selain Allah. Puji syukur kepada Allah yang telah menunjukkan aku kepada Islam”.

Rasulullah pun berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Ajarilah saudaramu ini tentang agama, bacakanlah AlQur’an kepadanya, dan bebaskanlah tawanannya”

Seorang yang mendapat julukan “Setan Quraisy” kini hatinya telah diliputi dengan cahaya Islam, hingga dalam sekejap Ia berbalik arah menjadi pejuang Islam yang gigih. Umar Bin Khattab berkata,

“Demi dzat yang diriku ditangan-Nya, aku lebih suka melihat babi daripada si Umair pada awal Ia muncul di hadapan kami. Tetapi, sekarang aku lebih suka kepadanya daripada sebagian anakku sendiri”

Setelah Umair kokoh dengan keIslamannya, Ia datang menghadap Rasulullah sembari berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku berusaha memadamkan cahaya Allah, sangat jahat kepada orang yang memeluk agama Allah. Sekarang aku ingin agar engkau mengizinkan aku pergi ke Mekah. Aku akan menyeru mereka kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, serta kepada Islam, semoga mereka diberi hidayah oleh-Nya. Bila menolak, aku akan menyakiti mereka karena agama mereka, sebagaimana dulu aku menyakiti sahabat-sahabatmu karena agama yang diikuti mereka.

Sedangkan di Mekah, Shafwan bin Umayah yang telah menghasut Umair untuk membunuh Rasulullah, menunggu-nunggu kabar gembira hingga Shafwan selalu bertanya kepada kafilah-kafilah dagang tentang kejadian yang sedang terjadi di Madinah. Ketika Ia mendapatkan kabar bahwa Umair telah masuk Islam, hatinya merasa terguncang bagai disambar petir.

Kembali dalam menaklukkan Mekah

Umair bertekad menyerahkan hidupnya untuk berbakti kepada Islam. Ketika Umair masuk ke Mekah Ia berdakwah menyebarkan Islam siang malam secara terbuka, keimanan yang tertanam dihatinya telah melahirkan rasa tentram. Dalam beberapa pekan, banyak orang-orang yang masuk Islam melalui perantara Umair bin Wahab. Ia pun membawa mereka dengan satu barisan panjang untuk hijrah ke Madinah.

Pada hari pembebasan Mekah, Umair tidak ingin melupakan sahabat karibnya Shafwan bin Umayah. Ia pun pergi untuk mengajaknya kepada Islam, namun Shafwan telah bersiap-siap menuju Jeddah untuk berlayar ke Yaman.

Umair merasa kasihan melihat sahabatnya berada dalam kesesatan. Ia pun bergegas menjumpai Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya Shafwan adalah pemimpin kaumnya, Ia hendak pergi melarikan diri karena takut kepada engkau. Berilah jaminan keamanan, berilah aku suatu tanda sebagai bukti keamanan darimu, semoga Allah melimpahkan karunia-Nya kepadamu”

Rasulullah ﷺ pun memberikan sorban yang dipakainya sewaktu memasuki Mekah.

Bersama dengan sorban Rasulullah, Umair berkata kepada Shafwan, “Inilah tanda keamanan dari Rasulullah  yang sengaja aku bawa untukmu”

Shafwan menjawab, “Celaka engkau, pergilah dariku, dan jangan berbicara kepadaku”

Umair berkata, “Benar Shafwan, jaminanmu ayah dan ibuku. Sesungguhnya Rasulullah  itu adalah manusia yang paling utama, paling banyak kebajikannya, paling penyantun, dan paling baik. Kemuliaannya adalah kemuliaanmu, kehormatannya adalah kehormatanmu”.

Akhirnya Shafwan bersedia ikut menghadap Rasululllah, dan berkata “Orang ini mengatakan bahwa engkau telah memberiku jaminan keamanan”

“Benar” jawab Rasul ﷺ

“Berilah aku kesempatan memilih selama dua bulan”

“Engkau diberi kebebasan memilih selama empat bulan”

Pada akhirnya Shafwan masuk Islam. Umair sangat bahagia dengan keislaman sahabtnya. Dan Ia melanjutkan perjalanan hidupnya untuk berdakwah dan mengeluarkan orang-orang dari kegelapan menuju. Wallahu ‘alam bis shawwab

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button